Ken Chu Buka Suara Soal Absen Reuni F4, Akui Alami Tekanan Psikologis
Ceritakita – Ken Chu menjadi sorotan publik setelah dipastikan tidak ikut dalam konser reuni F4. Ketidakhadirannya disebut berkaitan dengan konflik bersama anggota F4 lainnya serta agensi Mayday, B'in Music.
Isu tersebut berkembang luas di media sosial dan memicu beragam spekulasi dari penggemar. Situasi ini membuat perhatian publik terus tertuju pada kondisi Ken Chu.
Melalui akun Instagram pribadinya, Ken Chu akhirnya menyampaikan klarifikasi. Ia mengungkapkan bahwa sejak isu reuni F4 mencuat, dirinya terus menjadi sasaran perundungan di dunia maya.
“Sejak masalah terkait reuni F4 yang terjadi pada bulan September tahun ini, saya terus-menerus menjadi sasaran pelecehan daring dan kekerasan siber, yang menempatkan saya di bawah tekanan psikologis yang sangat besar,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi tersebut kian memburuk dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan itu tidak hanya mengganggu pekerjaannya, tetapi juga berdampak pada kehidupan keluarganya.
“Hal ini tidak hanya sangat mengganggu jadwal kerja normal saya, tetapi juga memengaruhi kehidupan keluarga saya yang damai, sehingga membuat saya kelelahan baik secara fisik maupun mental,” ungkap Ken.
Ken mengakui tekanan tersebut membuatnya kehilangan kendali emosi. Dalam situasi itu, ia menyampaikan pernyataan yang dinilai tidak pantas dan memicu kontroversi berkepanjangan.
“Di bawah serangan jahat yang terus-menerus serta pelecehan terhadap privasi pribadi saya, saya kehilangan kendali emosi dan menyampaikan pernyataan yang tidak pantas dalam komunikasi pribadi dengan pihak lain,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian menyebar ke ruang publik dan memancing perhatian luas. Ken pun menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
“Pernyataan tersebut kemudian tersebar dan menimbulkan kontroversi yang tidak perlu, serta secara objektif menyita perhatian publik. Atas hal ini, saya dengan tulus menyampaikan permohonan maaf kepada publik,” tutur Ken.
Ia juga mengungkapkan telah melakukan perenungan mendalam. Menurutnya, kegagalannya mengendalikan emosi menjadi pelajaran berharga.
“Ketika menghadapi perselisihan, saya gagal menahan emosi secara rasional dan tidak merespons dengan cara yang tepat, sehingga memberikan contoh yang buruk,” pungkasnya.
Selain itu, Ken turut mengklarifikasi pernyataannya terkait “Mainland-Taiwan platform”. Ia menegaskan pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dan kembali menyampaikan permintaan maaf.