Bukan Kebetulan, Migrain Pada Perempuan Ternyata Mengikuti Perubahan Hormon

Migrain pada Perempuan
Sumber :
  • Pexels/Kindel Media

Meski begitu, sakit kepala tipe tegang biasanya tidak ikut membaik karena tidak terlalu dipengaruhi oleh hormon. Penggunaan obat migrain selama kehamilan perlu perhatian khusus.

img_title Resmi Pacaran, Yang Se Jong Rela Nungguin Park Eun Bin Kerja di Spooky In Love

Banyak obat sakit kepala berisiko terhadap janin. Migrain yang membaik saat hamil juga dapat kembali setelah melahirkan akibat penurunan estrogen secara tiba tiba, ditambah faktor stres, kurang tidur, dan perubahan pola makan.

Kontrasepsi hormonal juga memiliki pengaruh yang beragam. Alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dapat memicu migrain pada sebagian perempuan.

img_title Reuni Setelah 8 Tahun, Pertemuan Ha Seok Jin dan Hani EXID Malah Diwarnai Cekcok

Pil KB kombinasi dengan jeda tujuh hari dapat menyebabkan penurunan estrogen yang tajam dan memicu migrain. Mengurangi atau memperpendek masa jeda sering membantu menurunkan risiko ini.

Namun, perempuan dengan migrain disertai aura tidak disarankan menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi karena berisiko meningkatkan kemungkinan stroke, meski risikonya kecil. Pilihan kontrasepsi lain seperti cincin vagina atau patch cenderung memberikan fluktuasi estrogen yang lebih stabil.

img_title Bikin Fans Khawatir, Han Stray Kids Mendadak Absen dari Siaran Live Music Core

Menjelang menopause atau fase perimenopause, migrain yang dipicu hormon bisa menjadi lebih sering dan lebih nyeri. Hal ini terjadi karena kadar hormon naik turun secara tidak teratur sebelum menstruasi berhenti sepenuhnya. Setelah menopause, sebagian perempuan justru mengalami perbaikan migrain.

Namun, sakit kepala tipe tegang dapat menjadi lebih buruk. Terapi pengganti hormon atau HRT dapat memberikan efek yang berbeda pada setiap orang. Estrogen dalam bentuk patch kulit biasanya direkomendasikan karena memberikan kadar hormon yang lebih stabil. Terapi hormon lainnya juga berpengaruh.

Terapi kesuburan seperti IVF melibatkan suntikan hormon yang dapat meningkatkan kadar estrogen secara signifikan dan memicu migrain pada sebagian perempuan.

Hal serupa dapat terjadi pada perempuan transgender yang menjalani terapi estrogen, bahkan beberapa mengalami migrain dengan aura untuk pertama kalinya.

Jika terjadi perubahan pola migrain setelah menjalani terapi hormon, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan agar pengobatan dapat disesuaikan.

Migrain dan hormon memiliki keterkaitan yang kuat pada perempuan. Dengan memahami bagaimana perubahan hormon bekerja di dalam tubuh, pemicu migrain dapat dikenali lebih dini dan dikelola dengan lebih baik.

Halaman Selanjutnya
img_title