Cerita Mantan Tukang Jagal Anjing di NTT yang Pilih Buka Toko Kelontong
- Grok AI
Ceritakita – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) baru saja mencatat sejarah penting dalam gerakan kesejahteraan hewan di Indonesia. Sebuah rumah potong dan restoran daging anjing yang telah beroperasi selama lebih dari 45 tahun di Kupang resmi berhenti beroperasi.
Langkah besar ini bukan sekadar penutupan paksa, melainkan bagian dari transisi ekonomi yang lebih manusiawi melalui program bertajuk Models for Change.
Transformasi dari Tukang Jagal Menjadi Pengusaha Toko
Salah satu sosok yang menjadi sorotan adalah Petrus Boly. Selama 15 tahun terakhir, hidupnya bergantung pada bisnis pemotongan anjing.
Namun, kini ia memilih jalan hidup baru dengan membuka toko kelontong. Perubahan ini didorong oleh kesadaran akan bahaya kesehatan dan rasa penyesalan yang mendalam.
"Kalau diingat-ingat lagi ribuan anjing yang sudah saya potong selama 15 tahun terakhir, rasanya sedih sekali," ungkap Petrus dikutip dari Manila Times, (17/03/2026).
Ia juga mengakui bahwa risiko tertular rabies saat menangani anjing-anjing tersebut sangatlah tinggi. Baginya, tawaran bantuan untuk beralih profesi ini datang di waktu yang sangat tepat.
Kolaborasi Global untuk Indonesia Bebas Rabies
Program Models for Change digagas oleh kolaborasi antara Humane World for Animals dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Fokus utama mereka saat ini adalah NTT, yang selama ini dikenal sebagai hotspot perdagangan daging anjing sekaligus wilayah dengan tingkat kasus rabies yang mengkhawatirkan.
Menurut Julie Sanders, Direktur Kampanye dari Humane World for Animals, setiap bisnis yang tutup adalah langkah nyata menuju penghapusan praktik kejam sekaligus perlindungan masyarakat dari ancaman rabies.
Data menunjukkan bahwa mobilisasi anjing dalam skala besar untuk perdagangan justru mempercepat penyebaran virus mematikan tersebut.
Visi NTT Bebas Rabies 2030
Gerakan ini sejalan dengan target ambisius pemerintah untuk menjadikan NTT bebas rabies pada tahun 2030. Direktur JAAN, Karin Franken, menekankan bahwa kunci dari perubahan ini adalah dukungan finansial dan pendampingan bisnis.
"Penutupan ini membuktikan bahwa jika diberikan dukungan modal dan bimbingan, para pelaku bisnis ini sebenarnya sangat bersedia untuk meninggalkan perdagangan daging anjing yang berbahaya," jelas Karin.