Nabung Sejak Sekolah Dasar, Perempuan Asal Bandung Ini Wujudkan Mimpi Traveling Berkat Reksadana & Saham
- Harian Kompas
Ceritakita – Yusan, perempuan berusia 29 tahun asal Bandung, Jawa Barat, mewujudkan mimpinya bepergian bersama keluarga dan sahabat melalui kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini.
Perjalanannya dimulai dengan ibadah umrah bersama sang ibu pada Januari 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke China bersama sahabat tiga bulan setelahnya.
Kebiasaan Menabung Sejak Kanak-Kanak Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Yusan telah terbiasa menyisihkan uang jajan.
Awalnya, kegiatan tersebut dilakukan dengan cara menabung secara konvensional. Seiring waktu, ia sempat mencoba investasi dengan membeli sapi. Kebiasaan tersebut berkembang setelah ia memasuki dunia kerja.
Yusan mulai mengenal berbagai instrumen investasi lain dan memutuskan untuk membuka rekening reksa dana serta akun saham. Meski demikian, perjalanan investasinya tak luput dari hambatan.
Yusan mengakui kesulitan terbesar yang dihadapinya adalah menjaga konsistensi.
Menurutnya, dana yang seharusnya untuk investasi kerap tercampur dengan kebutuhan bulanan. Penggunaan berbagai aplikasi untuk memantau saldo, berinvestasi, dan mencatat pengeluaran justru menimbulkan kesan rumit.
Tren Investasi Generasi Muda Meningkat Tajam
Kisah Yusan mencerminkan fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Generasi muda semakin antusias terjun ke dunia investasi seiring maraknya layanan keuangan digital.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025, naik sekitar 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengutip dari Harian Kompas, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi menyampaikan bahwa hingga Desember 2024, mayoritas investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dengan persentase 54,83 persen.
Total aset yang dikelola kelompok tersebut mencapai Rp 54,12 triliun. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kuliah umum "Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025" di Padang, Jumat (21/2/2025).
Peningkatan minat investasi di kalangan generasi muda menunjukkan bahwa mereka telah menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari gaya hidup.
Di tengah tren tersebut, muncul kebutuhan untuk mengelola risiko melalui diversifikasi agar tidak bergantung pada satu jenis instrumen investasi saja. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan ketika pasar mengalami fluktuasi.
Platform Digital Permudah Pengelolaan Keuangan
Berkat kemajuan teknologi, masyarakat kini dapat mengatur pengeluaran, menabung, hingga berinvestasi melalui layanan yang terintegrasi dalam satu aplikasi. Salah satu layanan yang mendukung kebutuhan tersebut adalah aplikasi Jago milik Bank Jago.
Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso menyatakan bahwa ketersediaan koneksi dengan platform investasi mitra Bibit dan Stockbit berkontribusi pada pertumbuhan jumlah pengguna aplikasi Jago.
"Seiring meningkatnya kebutuhan dan literasi nasabah dalam pengelolaan keuangan, pengguna Aplikasi Jago semakin aktif berinvestasi. Hal ini tecermin dari pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra Bibit dan Stockbit yang terus meningkat sebesar 38,2 persen secara tahunan per 31 Desember 2025," ujarnya.
Irene merinci bahwa dari komposisi investasi pengguna aplikasi Jago, reksa dana menjadi instrumen paling diminati dengan porsi 44 persen, diikuti saham sebesar 42 persen, dan obligasi 14 persen.
Menurutnya, data tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya diversifikasi investasi untuk mengelola risiko sekaligus mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
"Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan rekening dana nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025," kata Irene.
Pentingnya Memahami Profil Risiko dan Konsistensi
Sebelum memilih instrumen investasi, seseorang perlu memastikan tujuan keuangannya telah jelas, baik untuk biaya pendidikan, kepemilikan rumah, maupun persiapan pensiun.
Pemilihan instrumen tidak hanya harus sesuai kebutuhan, tetapi juga mampu dipenuhi dalam jangka panjang. Profil risiko merupakan kemampuan individu dalam menerima risiko investasi, apakah tergolong risk taker atau lebih memilih pendekatan aman.
Hal ini menjadi dasar penentuan instrumen investasi yang tepat. Prinsip yang perlu dipegang adalah semakin besar potensi keuntungan, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi.
Membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin sejak nominal kecil menjadi langkah awal yang disarankan. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu pemahaman sejak dini, tetapi juga mendukung optimalisasi pertumbuhan investasi dari waktu ke waktu.
Setelah membeli instrumen investasi, pemantauan dan evaluasi berkala tetap diperlukan agar portofolio sesuai dengan tujuan keuangan dan kondisi pasar. Diversifikasi menjadi kunci agar risiko dapat terbagi.
Dana tidak boleh ditempatkan hanya pada reksa dana atau saham, melainkan perlu dikombinasikan dengan tabungan atau deposito. Penentuan komposisi investasi harus disesuaikan dengan profil risiko, tujuan, dan jangka waktu masing-masing individu.