Kanker Reproduksi Ancam Kesuburan, tapi Teknologi Pelestarian Fertilitas Buka Peluang Memiliki Anak Pasca Pengobatan
- Pexel
Ceritakita – Pasien usia produktif yang baru mengetahui diagnosis kanker tidak hanya dihadapkan pada prospek pengobatan dan tingkat kesembuhan. Di balik perjuangan tersebut, muncul kekhawatiran signifikan mengenai kemampuan mereka untuk memiliki keturunan setelah menjalani serangkaian terapi.
Kanker yang menyerang organ reproduksi, seperti payudara, serviks, endometrium, dan ovarium pada wanita, serta prostat dan testis pada pria, tidak sekadar mengancam kondisi fisik. Penyakit ini turut berpotensi mengganggu fungsi reproduksi serta meruntuhkan rencana pembentukan keluarga di masa depan.
Angka Kanker Reproduksi di Indonesia Masih Tinggi
Mengutip Kompas.com, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kementerian Kesehatan mencatat kanker serviks menempati posisi kedua sebagai jenis kanker terbanyak pada perempuan Indonesia.
Setiap tahunnya tercatat sekitar 36 ribu kasus baru dengan lebih dari 21 ribu kematian. Di sisi lain, kanker payudara menduduki peringkat pertama dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 66 ribu. Sementara itu, kanker ovarium tercatat lebih dari 15 ribu kasus.
Tingginya angka tersebut mengindikasikan bahwa kanker reproduksi masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Meski demikian, sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi HPV dan deteksi dini.
Dampak Terapi terhadap Fungsi Reproduksi
Tujuan utama pengobatan kanker adalah menghancurkan sel-sel abnormal yang berkembang tidak terkendali. Namun, metode terapi seperti kemoterapi, radioterapi, dan tindakan bedah sering kali ikut memengaruhi sel-sel sehat, termasuk yang berada di organ reproduksi.
Kemoterapi bekerja dengan menyerang sel yang memiliki pertumbuhan cepat. Selain sel kanker, sel telur dan sperma juga dapat ikut terkena dampaknya. Pada wanita, efek yang muncul dapat berupa penurunan jumlah dan kualitas sel telur, gangguan keseimbangan hormon, hingga memicu menopause dini. Pada pria, terapi serupa berisiko menurunkan produksi sperma hingga menyebabkan infertilitas.
Radioterapi juga membawa risiko besar, khususnya ketika area panggul terpapar radiasi. Rahim, ovarium, dan testis merupakan organ yang sangat sensitif terhadap paparan tersebut sehingga fungsi reproduksinya dapat terganggu pasca pengobatan.
Dalam beberapa kasus, tindakan operasi untuk mengangkat kanker terkadang mengharuskan pengangkatan organ reproduksi tertentu guna menyelamatkan nyawa pasien. Kondisi tersebut tentu berpengaruh langsung pada kemampuan memiliki keturunan secara alami.