Kanker Reproduksi Ancam Kesuburan, tapi Teknologi Pelestarian Fertilitas Buka Peluang Memiliki Anak Pasca Pengobatan
- Pexel
Keterlambatan Deteksi Masih Jadi Tantangan
Isu krusial yang dihadapi dunia onkologi di Indonesia bukan semata tingginya insiden kasus, melainkan juga keterlambatan dalam penegakan diagnosis. Sejumlah besar pasien baru melapor ke fasilitas kesehatan ketika kanker telah berkembang ke stadium lanjut.
Dalam konteks kanker serviks, Kemenkes menyebut sebagian besar kasus baru terdeteksi ketika kondisi pasien telah cukup berat. Padahal, upaya deteksi sejak awal mampu meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Pemerintah terus menggenjot program skrining nasional. Berdasarkan data Kemenkes, sebanyak lebih dari 4,8 juta perempuan Indonesia telah menjalani pemeriksaan IVA guna deteksi dini kanker serviks pada 2024. Dari total tersebut, lebih dari 30 ribu perempuan dinyatakan positif IVA dan ratusan lainnya dicurigai mengarah pada kanker leher rahim.
Selain skrining, vaksinasi HPV turut menjadi langkah strategis dalam pencegahan kanker serviks. Saat ini, pemerintah tengah memperluas cakupan program imunisasi HPV nasional untuk anak perempuan usia sekolah sebagai bagian dari upaya eliminasi kanker serviks di tanah air.
Pendekatan Multidisipliner untuk Kualitas Hidup Pasien
Perjalanan melawan kanker memang penuh tantangan. Meski begitu, perkembangan dunia medis membuktikan bahwa diagnosis kanker bukan lagi penutup dari cita-cita membina keluarga.
Saat ini, fokus pengobatan kanker tidak hanya tertuju pada penyelamatan nyawa, melainkan juga pada pemeliharaan kualitas hidup pasien pasca penyembuhan. Peluang untuk menikah, memiliki anak, serta menjalani kehidupan berkeluarga tetap menjadi elemen penting dalam proses pemulihan.
Melalui edukasi yang lebih baik, deteksi dini, dukungan emosional, serta akses terhadap teknologi fertilitas, pasien kanker reproduksi masih menyimpan peluang untuk merealisasikan masa depan yang mereka impikan.
Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, Parkway Cancer Centre (PCC) memperkenalkan pendekatan terpadu dalam menangani kanker reproduksi. PCC mengimplementasikan sistem multidisipliner dengan melibatkan berbagai spesialis, mulai dari onkolog medis, ahli bedah, radiolog, hingga konselor dan spesialis fertilitas guna membantu pasien memperoleh penanganan komprehensif yang lebih personal. Tim dokter yang terlibat dalam pendekatan ini antara lain dr Wong Chiung Ing, dr Zee Ying Kiat, dr Ang Peng Tiam, dr Colin Phipps Diong, dr See Hui Ti, dan dr Lim Hong Liang.