Psikolog Ungkap Alasan Hubungan Bisa Bertahan Lebih dari 10 Tahun
- Pexels
Ceritakita – Di tengah maraknya fenomena ghosting, relationship fatigue, hingga tingginya angka perpisahan di era modern, melihat pasangan yang mampu mempertahankan hubungan hingga lebih dari satu dekade tentu menjadi hal yang mengagumkan.
Banyak orang mengira bahwa kunci utama dari hubungan yang awet belasan tahun adalah rasa cinta yang terus membara tanpa henti.
Namun, dari sudut pandang psikologi, perasaan cinta berapi-api (passionate love) secara biologis dan emosional memang akan bertransformasi seiring berjalannya waktu.
Hubungan yang mampu melintasi angka 10 tahun tidak lagi hanya bersandar pada percikan romansa di awal jumpa, melainkan pada fondasi psikologis yang dibangun secara sadar dan konsisten oleh kedua belah pihak.
Para ahli psikologi mengungkapkan beberapa alasan dan kunci utama mengapa sebuah hubungan bisa bertahan kokoh hingga lebih dari sepuluh tahun:
1. Transformasi Cinta Menjadi Companionate Love
Secara psikologis, fase romansa yang penuh euforia biasanya akan mereda dalam beberapa tahun pertama. Pasangan yang bertahan lama berhasil bertransisi dari passionate love menuju companionate love, yaitu bentuk kasih sayang yang berlandaskan persahabatan yang dalam, kehangatan, rasa percaya, dan komitmen yang stabil. Mereka tidak hanya berperan sebagai pasangan, tetapi juga sebagai sahabat terbaik.
2. Kemampuan Navigasi Konflik yang Sehat
Psikolog ternama Dr. John Gottman menegaskan bahwa keberhasilan hubungan tidak ditentukan dari tidak adanya pertengkaran, melainkan bagaimana cara pasangan mengelola konflik tersebut. Pasangan yang awet belasan tahun belajar untuk berdiskusi tanpa saling menjatuhkan, menghindari sikap defensif, dan selalu berfokus pada pencarian solusi bersama alih-alih saling menyalahkan.
3. Tumbuh Bersama Tanpa Kehilangan Identitas Diri
Dalam kurun waktu 10 tahun, setiap individu pasti mengalami perubahan nilai hidup, karier, dan kedewasaan. Hubungan yang bertahan lama memberi ruang bagi masing-masing pihak untuk tumbuh berkembang mengejar impian pribadinya. Mereka tidak saling mengekang, melainkan menjadi pendukung utama dalam proses pendewasaan satu sama lain.
4. Menjaga Toleransi dan Empati yang Tinggi
Seiring berjalannya waktu, kekurangan dan kebiasaan buruk pasangan akan makin terlihat jelas. Pasangan yang langgeng memiliki tingkat penerimaan dan empati yang tinggi. Mereka memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna, sehingga memilih untuk memaklumi hal-hal kecil yang tidak prinsipil dan fokus pada kebaikan yang dimiliki pasangan.