Kenapa Air Laut Asin Sedangkan Air Sungai Tidak?
- Pexels
Ceritakita – Pernahkah kamu berenang di laut dan secara tidak sengaja menelan airnya? Rasa asin yang sangat kuat pasti langsung terasa di lidah. Uniknya, meskipun sebagian besar air laut berasal dari aliran sungai yang terus-menerus mengalir ke samudra, air sungai itu sendiri tidak terasa asin saat kita minum. Lantas, dari mana sebenarnya rasa asin air laut itu berasal dan mengapa air sungai tetap tawar?
Jawaban atas pertanyaan ini melibatkan proses geologi dan siklus air yang telah berlangsung selama miliaran tahun di planet kita. Ada beberapa tahap ilmiah yang menjelaskan bagaimana garam bisa menumpuk di laut tetapi tidak di sungai.
Pelapukan Batuan oleh Air Hujan
Siklus rasa asin ini sebenarnya dimulai dari daratan. Air hujan yang jatuh ke bumi bersifat sedikit asam karena mengikat karbon dioksida di udara. Saat air hujan membasahi batuan di daratan, sifat asam ini secara perlahan mengikis dan melarutkan mineral serta garam mineral dari batuan tersebut, terutama natrium dan klorida. Mineral yang terlarut ini kemudian terbawa oleh aliran air menuju sungai.
Air Sungai Tetap Mengalir dan Terus Berganti
Meskipun air sungai membawa kandungan garam hasil pelapukan batuan, konsentrasinya sangat rendah sehingga lidah manusia tidak bisa merasakannya sebagai rasa asin. Selain itu, air sungai terus mengalir dan berganti secara dinamis menuju ke laut. Aliran yang konstan ini mencegah terjadinya penumpukan mineral di sepanjang aliran sungai, sehingga airnya tetap terasa tawar.
Proses Penguapan yang Memusatkan Garam di Laut
Ketika air sungai akhirnya bermuara di samudra, air laut yang menampung seluruh aliran tersebut mengalami penguapan akibat panas matahari. Saat air laut menguap membentuk awan, hanya molekul air murni (H2O) yang naik ke udara, sedangkan kandungan garam dan mineral tetap tertinggal di dalam laut. Proses penguapan yang terjadi terus-menerus selama jutaan tahun inilah yang membuat konsentrasi garam di laut semakin tinggi dan pekat.
Sumbangan Mineral dari Ventilasi Hidrothermal Laut
Selain pasokan dari sungai, laut juga mendapat tambahan garam dari dasar samudra itu sendiri. Di dasar laut terdapat ventilasi hidrothermal, yaitu celah pada kerak bumi tempat air laut meresap ke dalam tanah, dipanaskan oleh magma, lalu disemburkan kembali ke laut dengan membawa banyak mineral terlarut. Aktivitas gunung berapi di bawah laut juga turut menyumbang senyawa garam ke dalam air laut.