Konspirasi untuk mengendalikan populasi Muslim': Taliban melarang kontrasepsi

Taliban muslim
Sumber :
  • dtnext.in

Cerita Kita

Terindikasi Skandal Impor Beras, Menperin Minta Data Isi 26.000 Kontainer yang Tertahan di Pelabuhan

Para Pejuang di Taliban berupaya menghentikan penjualan alat kontrasepsi di dua kota utama Afghanistan. Menurut laporan sebuah media, mereka mengklaim bahwa penggunaan alat kontrasepsi dinilai sebagai konspirasi barat untuk mengendalikan populasi Muslim. Dalam laporan media The Guardian dipaparkan bahwa Taliban pergi dari pintu ke pintu, mengancam bidan dan memerintahkan apotek untuk membersihkan rak mereka dari semua obat dan perangkat KB. 

Dilansir dari media barat, the siasat daily, seorang pemilik toko di kota tersebut mengatakan, “Mereka datang ke toko saya dua kali dengan membawa senjata dan mengancam saya untuk tidak menjual pil kontrasepsi. Mereka secara rutin memeriksa setiap apotek di Kabul dan kami menghentikan penjualan produknya,” 

Survei Pilkada Bupati Demak 2024, Teguh Sapto Utomo Raih Elektabilitas Tertinggi

Seorang bidan yang tidak mau disebutkan namanya juga mengaku beberapa kali diancam. Dia menyebutkan, komandan Taliban sempat berkata padanya : "Anda tidak diizinkan pergi ke luar dan mempromosikan konsep barat tentang pengendalian populasi dan ini adalah pekerjaan yang tidak perlu."

Seorang Apoteker lain di Kabul dan Mazar-i-Sharif menegaskan bahwa mereka diperintahkan untuk tidak menyimpan obat KB, media The Guardian melaporkan. “Barang-barang seperti pil KB dan suntikan Depo-Provera tidak boleh disimpan di apotek sejak awal bulan ini, dan kami terlalu takut untuk menjual stok yang ada,” kata pemilik toko lainnya di Kabul. 

11 Nama Aplikasi Garapan Pemerintah yang Bikin Netizen Tepok Jidat

Pejuang Taliban yang berpatroli di jalan-jalan di Kabul mengatakan kepada sumber bahwa "penggunaan kontrasepsi dan keluarga berencana adalah konspirasi dari Barat". Shabnam Nasimi, seorang aktivis sosial kelahiran Afghanistan di Inggris, mengatakan: “Kontrol Taliban tidak hanya atas hak asasi perempuan untuk bekerja dan belajar, tetapi sekarang juga atas tubuh mereka, sangat keterlaluan.”