Kisah Pelajar Kaltim Bertaruh Nyawa Lewati Sungai Penuh Buaya Pakai Kereta Gantung
- Riani Rahayu/detikKalimantan
"Kalau yang ini kejepit sling tadi pagi," tuturnya menunjukkan lecet di jari kelingkingnya.
Pengalaman yang lebih mendebarkan dialami oleh Nurhayati, siswi kelas IX SMPN 6 Marangkayu. Ia mengaku pernah terjatuh ke sungai saat menggunakan kereta gantung. Saat itu, air sungai tengah surut sehingga jarak antara kereta dengan permukaan sungai cukup tinggi, yakni sekitar 10 meter.
"Saat itu keretanya sudah di tengah. Saya belum sempat pegangan, terus jatuh ke sungai. Terus kakak saya langsung lompat selamatin saya," tuturnya.
Setelah bertahun-tahun bertaruh nyawa, Nurhayati sangat berharap pemerintah segera membangun akses penyeberangan yang lebih aman. "Saya harap cepat ada jembatan. Jadi jalan ke mana-mana tidak perlu takut lagi," pungkasnya.
Akses Terkendala Status Hutan Lindung
Jeritan anak-anak dan warga Santan Ulu sebenarnya sudah disuarakan oleh pemerintah desa. Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, memaparkan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi ini.
Menurutnya, akses ini bahkan sudah digunakan warga selama hampir 9 tahun karena hingga kini belum memiliki jembatan permanen. Ia menjelaskan, awalnya kereta gantung ini tidak ditujukan untuk akses pendidikan, melainkan untuk para petani.
"Awalnya kereta gantung ini dibuat masyarakat untuk mengangkut hasil panen karena dulu kalau menyeberang harus pakai perahu. Lama-kelamaan ada warga yang menetap di seberang, anak-anaknya sekolah, akhirnya dipakai juga sebagai akses ke sekolah," jelas Heri.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa masyarakat enggan menggunakan perahu karena sungai selebar 40 hingga 50 meter dan cukup dalam tersebut adalah habitat buaya.
"Di sungai itu memang ada buaya yang merupakan satwa dilindungi. Karena itu masyarakat merasa lebih aman menggunakan kereta gantung," ungkapnya.
Saat ini, terdapat sekitar lima kereta gantung di Desa Santan Ulu. Satu unitnya mampu mengangkut 4-5 orang.
"Bisa mengangkut empat sampai lima orang. Kalau hasil panen sekitar 200 sampai 300 kilogram atau kurang lebih tiga kuintal," tuturnya.
"Yang viral ini nilainya sekitar Rp20 jutaan, bahkan bisa lebih. Sebagian besar dibangun swadaya masyarakat, ada juga yang menggunakan anggaran desa untuk mempermudah pengangkutan hasil panen sekaligus akses anak sekolah," tambah Heri.