Bertaruh Nyawa di Antara Gas Metana, Begini Kisah Gunawan Mengais Rezeki Demi Sambung Hidup

Para pemulung tampak sibuk mencari sampah yang bernilai rupiah di TPA Pecuk
Sumber :
  • Burhannudin/detikJabar

Ceritakita - Matahari baru saja merangkak naik saat deru mesin truk sampah mulai memecah kesunyian di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pecuk, Desa Sindang, Indramayu. Di sana, berton-ton limbah rumah tangga dimuntahkan dari bak truk, lalu diratakan oleh moncong buldoser yang tak kenal lelah.

img_title Tak Tega Lihat Orang Kelaparan, Dokter di Semarang Rela Rogoh Jutaan Rupiah Uang Pribadi Demi Bantu Sesama

Belum juga debu dari alat berat itu mengendap, puluhan sosok dengan karung lusuh di pundak sudah merangsek maju. Berbekal pengait besi, mereka beradu cepat dengan waktu dan aroma menyengat, memburu botol plastik atau lembaran kardus yang masih laku ditukar rupiah.

Ladang Harapan di Tengah Gunungan Sampah

img_title 12 Tahun Ngadu Nasib di Ibu Kota, Pria Ini Memilih Pulang dan Bangun Desa Wisata

Melansir pemberitaan detikJabar, bagi warga Indramayu, TPA seluas 13 hektare ini mungkin hanya muara akhir dari sisa konsumsi harian. Namun bagi sekitar 50 pemulung di sana, gunungan sampah ini adalah ladang harapan. Salah satunya Gunawan (41), yang sudah setahun terakhir menjadikan tempat ini sebagai "kantor" terbukanya bersama sang istri.

Gunawan bercerita tentang rutinitasnya yang panjang di bawah terik matahari. "Kami kerja dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore," kata Gunawan saat ditemui di lokasi belum lama ini.

img_title Dua Kali Gagal Tak Bikin Gentar! Cerita Perjuangan Gilang Pantang Menyerah Ikut Seleksi Akpol Ketiga Kalinya

Selama hampir sembilan jam, ia dan istrinya telaten memilah plastik, kardus, hingga karung bekas. Barang-barang itu dikelompokkan dengan rapi sebelum nantinya disetor ke pengepul. Namun, keringat yang bercucuran seringkali tak sebanding dengan upah yang dibawa pulang.

"Paling sekitar tiga puluh ribu rupiah sehari," ujar Gunawan lirih.

Bertahan Hidup Saat harga Barang Bekas Tak Bersahabat

Harga barang bekas memang sedang tidak bersahabat. Botol plastik hanya dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram, sementara jenis plastik lain cuma berkisar Rp1.500 per kilogram. Angka-angka kecil inilah yang menjadi tumpuan Gunawan untuk menyambung napas keluarganya.

Saat ditanya mengapa ia tetap bertahan melakoni pekerjaan yang menguras fisik ini, Gunawan hanya memberikan jawaban singkat yang menyentuh realitas sosial.

"Karena tidak ada pekerjaan lain," katanya.

Jawaban itu seolah mewakili suara hati banyak orang di sekitar TPA. Memulung bukanlah cita-cita, melainkan cara paling realistis untuk bertahan hidup di tengah sempitnya lapangan pekerjaan.

Halaman Selanjutnya
img_title