12 Tahun Ngadu Nasib di Ibu Kota, Pria Ini Memilih Pulang dan Bangun Desa Wisata

Dodi saat berjaga di dermaga perahu wisata Waduk Darma Kuningan
Sumber :
  • Fahmi Labibinajib/detikJabar

Ceritakita – Matahari sedang terik-teriknya di atas langit Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan. Namun, panas yang menyengat tak menyurutkan semangat Dodi (38) untuk tetap berjaga di dermaga. Dengan senyum ramah, pria asli Kuningan ini menyapa setiap pelancong yang melintas, menawarkan kesempatan untuk membelah jernihnya air Waduk Darma dengan perahu wisata.

img_title Tak Tega Lihat Orang Kelaparan, Dokter di Semarang Rela Rogoh Jutaan Rupiah Uang Pribadi Demi Bantu Sesama

Dua tahun sudah Dodi menekuni profesi ini. Melansir pemberitaan detikJabar, sebelum mantap menetap di tanah kelahiran, ia adalah satu dari sekian banyak perantau yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di hiruk-pikuk Jakarta. Kala itu, minimnya lapangan kerja di desa memaksanya mengadu nasib sebagai buruh di ibu kota. Namun, takdir membawanya pulang. Bukan karena menyerah pada Jakarta, melainkan karena panggilan bakti untuk menemani orang tuanya yang kian senja.

Transformasi Desa dan Sistem Kerja Gotong-Royong

img_title Bertaruh Nyawa di Antara Gas Metana, Begini Kisah Gunawan Mengais Rezeki Demi Sambung Hidup

Kepulangannya pada 2024 silam ternyata bertepatan dengan momentum penting. Desa Jagara sedang bersolek, bertransformasi menjadi desa wisata yang memanfaatkan potensi besar Waduk Darma. Kehadiran Jagara Ecopark menjadi pemantik awal yang mengubah wajah desa sekaligus membuka keran ekonomi bagi warga lokal.

"Orang tua kan sudah tua, jadi sambil nemenin Dulu di perantauan kerja ikut orang ada sampai 12 tahun mah. Positif, semenjak jadi desa wisata. Ke sini istilahnya ada kemajuan semua pariwisatanya. Awal mulanya memang dari pembangunan Jagara Ecopark," tutur Dodi.

img_title Ammar Zoni Depak dr. Kamelia & Ibu Titi Lewat Dokumen Resmi, Ada Apa Sebenarnya?

Di sini, persaingan usaha disulap menjadi kolaborasi. Dodi menjelaskan bahwa pengelolaan perahu wisata di Desa Jagara mengedepankan asas gotong-royong. Tak ada pemilik perahu yang berjalan sendiri-sendiri. Sekitar 10 unit armada milik warga dikumpulkan dalam satu manajemen di bawah naungan desa. Sistem pendapatannya pun adil; hasil yang didapat dikumpulkan dan dibagi rata kepada seluruh pemilik perahu setiap bulannya.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama perbukitan dari tengah waduk, tarifnya cukup terjangkau. Cukup merogoh kocek Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak, pengunjung bisa berkeliling selama 20 hingga 30 menit. Saat musim liburan atau akhir pekan, Dodi mengaku bisa membawa pulang pendapatan hingga Rp2 juta per bulan.

Halaman Selanjutnya
img_title