12 Tahun Ngadu Nasib di Ibu Kota, Pria Ini Memilih Pulang dan Bangun Desa Wisata
- Fahmi Labibinajib/detikJabar
"Ini kan dikelolanya bareng bareng pakai sistem bulanan. Untuk biaya operasional mungkin langsung dihari yang sama. Tapi kalau untuk pendapatan itu bulanan dibagi saja. Sekitar Rp 2 juta bisa dapat kalau lagi ramai. Paling ramai yang naik biasanya pas waktu sore soalnya bisa lihat sunset," tutur Dodi.
Strategi Cadangan Saat Sepi Penumpang
Meski demikian, hidup di sektor pariwisata tak selamanya mulus. Alam adalah penentu utama. Jika hujan badai datang atau pengunjung sedang sepi, dermaga bisa menjadi sangat sunyi. Ada kalanya Dodi harus pulang dengan tangan hampa tanpa satu pun penumpang. Namun, sebagai pria yang terbiasa bekerja keras, ia tak lantas berpangku tangan. Di tengah waduk, ia memiliki keramba jaring apung yang menjadi tumpuan cadangannya.
"Buka Jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Kalau musim hujan yah pernah sehari nggak dapat penumpang sama sekali. Cuman untungnya masih punya keramba di tengah Waduk. Jadi kalau sepi bisa mengurus ikan. Sekalinya panen itu lumayan bisa sampai 5 kuintal ada," tutur Dodi.
Ketenangan Hidup di Dekat Keluarga
Bagi Dodi, meski penghasilannya kini tak menentu layaknya gaji bulanan di Jakarta, ada ketenangan yang tak bisa dinilai dengan uang: kedekatan dengan keluarga. Sambil menatap masa depan, ia berharap Desa Wisata Jagara terus tumbuh, membawa kesejahteraan bagi warga yang memilih pulang dan membangun tanah kelahiran.
"Kalau digabung-gabung sih alhamdulillah cukup, bisa dekat sama keluarga juga. Kalau di perahu saja apalagi pas hari-hari biasa sih nggak cukup. Ini kan sama keramba ikan juga," pungkas Dodi.