Tak Tega Lihat Orang Kelaparan, Dokter di Semarang Rela Rogoh Jutaan Rupiah Uang Pribadi Demi Bantu Sesama
- Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
"Untuk totalnya sendiri sebenarnya ngebudget maksimal Rp 25 ribu. Nah, setelah itu baru kita bayar lewat sini," jelasnya.
Per bulan, satu orang yang benar-benar dalam kondisi darurat kelaparan mendapat jatah tiga kali bantuan. Senin hingga Sabtu Eko melayani mereka yang kelaparan sejak pukul 07.00-21.00 WIB. Eko mengaku, dua bulan pertamanya membantu orang kelaparan menggunakan uang jerih payahnya. Sepekan dia bisa menghabiskan duit sekitar Rp 3 juta. Sehari, dia bisa membantu hingga 25 orang.
"Ini kan pakai uang pribadi, toh, kurang lebih dua bulan. Satu minggu itu pernah habis sekitar Rp 3 jutaan. Sejauh ini sehari bisa 25-an (orang yang dibantu)," sebutnya.
Gerakan Eko ternyata memancing orang lain untuk peduli. Usai disarankan temannya untuk menerima donasi, Eko pun membuka perbantuan dari orang lain usai dua bulan berjalan.
"Jadi setelah 2 bulan tuh ada yang donasi. Itu saran dari teman saya gitu. Saya kan memang enggak mau buka donasi awalnya. Cuma kalau kata teman saya, 'masa sih orang yang mau ngasih, kita halang-halangin,' gitu," terangnya. "Ya udah saya coba pikirin ulang, coba kita buka dulu donasi. Satu bulan ini sudah ada bantuan sekitar Rp 3 juta," lanjutnya.
Beragam Cerita Orang Kepepet yang Ditolong
Sudah beragam orang dalam keadaan kepepet yang Eko bantu. Suatu ketika ada sebuah nomor yang berkali-kali menelpon nomornya pada pukul 12.00 WIB. Eko pun mengetahui orang yang berulang menelpon adalah seseorang yang tengah mencari kerja di Kota Atlas yang kehilangan dompet.
"Setelah kita konfirmasi sesuai dengan mekanisme, kita tolong. Dan ternyata kondisinya emang dia tuh kayak dari perjalanan di Semarang mau cari kerja. Ternyata dompetnya itu hilang," kisahnya.
Ada pula seorang ibu yang meminta Eko untuk membelikan obat anaknya yang menderita panas selama tiga hari. Terlebih, ibu dan anaknya itu belum makan.
"Jadi, dia memintanya enggak makanan, 'tolong beliin obat aja buat anak saya, anak saya sakit.' Jadi memang dia pengin beliin obat aja," ceritanya. "Saya sebagai dokter kan itu memang harus dikasih obat gitu ya. Ibu itu kan memang ngejelasin dia tuh memang belum makan, terus dia butuh obat. 'Mas, enggak apa-apa buat obatnya aja. Bu, enggak apa-apa beli makanan aja. Beli sembako aja'," lanjutnya.