Di Tengah Arus TikTok, Desa Puser dan Kecamatan Tirtayasa Menjemput Asa Lewat Perpustakaan
- Arum Kusuma/VIVA
Ceritakita – Tantangan pendidikan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah hari ini berdiri di atas tantangan zaman yang sangat berbeda. Di tengah gempuran arus digitalisasi dan kecenderungan anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan media sosial, menghidupkan kembali ruang baca di pelosok desa menjadi sebuah perjuangan tersendiri.
Realitas tersebut mengemuka dalam penutupan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Kelompok 74 di Desa Puser, Kecamatan Tirtayasa. Camat Tirtayasa, Munapri, S.E., M.M., menegaskan pentingnya perhatian bersama terhadap pendidikan anak-anak di wilayahnya.
"SD dan SMP sudah beda zamannya dengan zaman lampau. Baik dari pemerintah dan orang tua, perlu peduli terhadap pendidikan anak-anak khususnya di Kecamatan Tirtayasa. Mudah-mudahan dengan adanya KKM ini bisa memberikan motivasi dan pencerahan untuk anak-anak Desa Puser," tuturnya.
Dampak paling nyata dari kehadiran mahasiswa terlihat pada perubahan fungsi dan kondisi Perpustakaan Desa Puser. Kepala Desa Puser, H. Faiz, S.E., mengapresiasi perubahan fisik perpustakaan yang sebelumnya tidak terawat.
"Awalnya perpus berantakan, saya melihat sendiri dengan adanya adik-adik mahasiswa bisa dibersihkan, bisa divariasikan, dan mengaktifkan lagi perpus di kantor desa Puser. Semoga dengan perpus yang sudah rapi anak-anak kita bisa datang lebih semangat rajin membaca di perpustakaan," ujar H. Faiz.
Perubahan tersebut bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan juga penataan sistem. Melalui pencatatan koleksi, penataan ruangan yang nyaman, hingga pelabelan buku sesuai rentang usia, perpustakaan kini bertransformasi menjadi ruang belajar yang layak.
Langkah ini diperkuat dengan hibah ribuan buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), optimalisasi media sosial (@kkm74_desapuser), hingga kegiatan edukatif seperti Seminar Literasi di SMPN 1 Tirtayasa, lomba membaca nyaring, sosialisasi anti-bullying di SD Samparwadi 2, mengajar ngaji, dan senam sehat bersama PKK.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Andyta Ma'rifatul Usnia, M.Pd., Gr., menyampaikan bahwa misi utama KKM ini adalah memastikan buku di desa terasa manfaatnya untuk menekan dampak negatif gawai.
"Harapan bahwa apa yang sudah dimulai oleh mahasiswa bisa dilaksanakan berkelanjutan. Semoga dengan adanya perpustakaan di desa, literasi sejak dini bisa terlaksana. Karena anak zaman sekarang lebih tertarik melakukan scroll TikTok," ungkapnya.