Trump Ditinggal Sendirian di Selat Hormuz, Sekutu Ogah Kirim Kapal Perang Hadapi Iran
- CNN
Ceritakita – Di saat perhatian dunia terbelah oleh berbagai isu domestik, sebuah drama geopolitik tingkat tinggi sedang terjadi di Timur Tengah.
Selat Hormuz, urat nadi energi dunia yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak bumi global, kini berada dalam kondisi kritis setelah diblokir oleh Iran.
Penutupan jalur vital ini menjadi gangguan terbesar yang pernah terjadi pada distribusi minyak global, memicu lonjakan harga energi yang mulai merembet ke berbagai negara.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang saat ini sedang menghadapi eskalasi konflik pasca serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu, mulai bergerak agresif.
Ia menuntut negara-negara yang selama ini bergantung pada pasokan minyak dari Teluk untuk ikut memikul tanggung jawab.
Namun, alih-alih mendapatkan dukungan armada tempur, Trump justru tampak seperti sedang berteriak di tengah kesunyian.
Belum ada satu pun sekutu yang secara resmi setuju untuk menerapkan skema pengawalan militer atau semacam sistem one way maritim di jalur berbahaya tersebut.
Trump: Lindungi Wilayah Kalian Sendiri!
Dalam perjalanannya menuju Washington pada Minggu, 15 Maret 2026, Trump memberikan pernyataan tajam kepada wartawan di atas Air Force One.
Ia menekankan bahwa Amerika Serikat tidak mau lagi menjadi "polisi dunia" sendirian tanpa kontribusi nyata dari negara penerima manfaat energi.
"Saya menuntut negara-negara tersebut ikut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu adalah wilayah mereka. Ini tempat mereka mendapatkan energi," tegas Trump.
Trump dilaporkan telah menghubungi tujuh negara, termasuk Jepang, Inggris, Perancis, Korea Selatan, hingga China.
Ia bahkan memberikan peringatan keras kepada aliansi NATO, menyebut bahwa masa depan mereka akan menghadapi fase yang sangat buruk jika gagal membantu Washington menembus blokade Iran di Selat Hormuz.
Respons Dingin dari Tokyo hingga Canberra
Meskipun ancaman krisis energi sudah di depan mata, sekutu-sekutu dekat AS memilih untuk bersikap sangat hati-hati.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan di hadapan parlemen bahwa Tokyo belum memiliki rencana untuk mengirimkan kapal pengawal.
Jepang lebih memilih untuk meninjau langkah mandiri di bawah koridor hukum nasional daripada langsung terjun dalam misi militer yang dipimpin Trump.