Deadlock di Hormuz: Saat Iran Tak Gentar pada Gertakan Terbaru Donald Trump
- Reuters
Ceritakita – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya pada Maret 2026 ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja melontarkan ultimatum keras kepada Iran untuk segera membuka blokade di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tidak dipenuhi, Trump mengancam akan melumpuhkan total jaringan listrik di Teheran.
Konflik ini merupakan buntut dari eskalasi militer antara AS-Israel melawan Iran yang pecah sejak akhir Februari lalu. Penutupan jalur pelayaran vital ini telah memicu guncangan ekonomi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia bergantung pada selat sempit tersebut.
Ultimatum Lewat Truth Social
Khas dengan gaya komunikasinya yang meledak-ledak, Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui platform Truth Social miliknya. Ia menegaskan tidak akan segan menyerang infrastruktur energi Iran jika akses pelayaran tidak segera dinormalkan tanpa syarat.
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" tulis Trump.
Iran: Musuh Dilarang Lewat
Alih-alih gentar, Teheran justru memberikan respons yang tak kalah gertak. Militer Iran melalui juru bicara Komando Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa pihaknya siap menghancurkan seluruh infrastruktur energi milik AS dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai aksi balasan.
Perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), Ali Mousavi, menyatakan bahwa Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka bagi publik, namun dengan pengecualian tegas.
"Selat Hormuz terbuka untuk semua orang kecuali 'musuh'. Keselamatan kapal dan awaknya membutuhkan koordinasi dengan otoritas Iran," tegas Mousavi.
Dampak Ekonomi Global Mulai Terasa
Hambatan pasokan energi dari Teluk ini telah menyebabkan harga bahan bakar meroket di berbagai belahan dunia. Pemerintah di banyak negara kini berpacu dengan waktu untuk mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan nasional guna meredam inflasi yang kian tak terkendali.
Diplomasi memang masih disebut sebagai prioritas oleh Teheran, namun mereka menekankan bahwa jaminan keamanan dan penghentian agresi sepenuhnya jauh lebih penting daripada sekadar negosiasi di atas meja.