Update Perang AS-Iran Makin Gawat Dari Ledakan di Yerusalem Sampai Ancaman Balasan Jahanam
- Reuters
Ceritakita – Perang antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran memasuki fase paling mematikan di bulan Maret 2026 ini.
Eskalasi besar-besaran terjadi setelah serangkaian serangan rudal dan drone menghantam berbagai titik strategis di Timur Tengah, memicu ancaman kehancuran infrastruktur total dari kedua belah pihak.
Ultimatum 48 Jam Donald Trump
Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan perintah tegas melalui platform Truth Social. Ia memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh tanpa ancaman.
Jika gagal, AS mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik terbesar di Iran sebagai langkah awal pemutusan energi total di negara tersebut.
Hujan Rudal di Jantung Kota
Sirene peringatan dini meraung di Yerusalem pada Minggu (22/3) setelah militer Israel mendeteksi serangan rudal dari Iran. Tak hanya itu, serangan rudal Iran ke kota Arad dan Dimona di Israel selatan dilaporkan melukai lebih dari 100 orang.
Pihak Teheran menyebut serangan ke Dimona, yang merupakan lokasi fasilitas nuklir adalah balasan atas serangan sebelumnya di situs nuklir Natanz.
Konflik Meluas ke Negara Teluk
Ketegangan tidak lagi terbatas pada dua negara. Arab Saudi melaporkan adanya tiga rudal balistik yang menyasar Riyadh, sementara Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan tengah menangkis serangan drone Iran.
Serangan terhadap UEA ini diduga dipicu oleh peringatan Iran agar negara tetangga tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Teheran.
Target Militer dan Infrastruktur Strategis
Di Irak, pangkalan militer dekat Bandara Internasional Baghdad yang pernah digunakan pasukan AS kembali menjadi sasaran drone.
Menanggapi ancaman Trump, militer Iran bersumpah akan membalas dengan menargetkan seluruh infrastruktur teknologi informasi, desalinasi air, hingga energi milik AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
Saat ini, militer Israel juga dilaporkan tengah melancarkan gelombang serangan udara langsung ke jantung kota Teheran.
Dengan tenggat waktu 48 jam yang terus berjalan, dunia kini menanti apakah diplomasi masih punya celah atau Timur Tengah akan terjebak dalam perang terbuka yang lebih destruktif.