Update Konflik Timur Tengah! Iran Targetkan Fasilitas Desalinasi AS

Abbas Araghchi
Sumber :
  • TIME

Ceritakita – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Menanggapi ultimatum keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Iran secara resmi mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur strategis milik AS dan Israel yang tersebar di kawasan tersebut jika wilayah mereka diserang.

Update Perang AS-Iran Makin Gawat Dari Ledakan di Yerusalem Sampai Ancaman Balasan Jahanam

Ancaman Tanpa Pengekangan dari Teheran

Melalui juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Iran menegaskan bahwa target balasan mereka tidak hanya terbatas pada sektor militer. Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran menjadi sasaran, maka seluruh fasilitas energi, teknologi informasi, hingga pabrik desalinasi air milik AS dan sekutunya di Timur Tengah akan menjadi target sah militer mereka.

Trump Ditinggal Sendirian di Selat Hormuz, Sekutu Ogah Kirim Kapal Perang Hadapi Iran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga memberikan peringatan keras bahwa Teheran akan bertindak "tanpa pengekangan" dalam mempertahankan kedaulatan serta aset vital negaranya.

Buntut Ultimatum 48 Jam Donald Trump

Ayatollah Ali Khamenei dalam Kenangan Sang Ibu hingga Bayang-Bayang Teheran yang Menjadi Kota Garnisun

Ketegangan ini memuncak setelah Trump memberikan tenggat waktu 48 jam pada Sabtu (21/3) agar Iran segera membuka blokade di Selat Hormuz. Jika tidak dipenuhi, AS mengancam akan meluncurkan serangan udara ke berbagai pembangkit listrik di Iran, dimulai dari fasilitas yang paling besar.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur nadi minyak dunia yang telah mengalami gangguan signifikan sejak awal Maret 2026. Gangguan pada jalur ini telah memicu lonjakan harga minyak global dan mengancam stabilitas ekonomi banyak negara.

Situasi Pasca Gugurnya Pemimpin Tertinggi

Konflik fisik antara AS-Israel dan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu dilaporkan telah merenggut sedikitnya 1.300 nyawa. Salah satu kehilangan terbesar bagi Iran adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi mereka saat itu, Ali Khamenei, dalam serangan awal tersebut.

Kini, dengan kondisi kepemimpinan yang terluka namun tetap agresif, dunia menanti dengan cemas apakah gertakan kedua belah pihak akan berakhir di meja perundingan atau justru memicu perang terbuka yang bisa melumpuhkan pasokan energi global secara total.