Tinggalkan Kufur Jadikan Syukur

Ilustrasi orang bersyukur
Sumber :
  • Thirdman/pexels

Cerita KitaKufur, kebalikan dari Syukur. Kufur adalah mengingkari nikmat Allah, sedangkan syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya.

Kutip Hadis, Ustaz Khalid Basalamah Larang Beli Baju Lebaran di 10 Hari Terakhir Ramadhan

 

Bagi kalian, kemungkinan dua kata ini terlihat familiar. Namun, apakah kalian sudah mengaplikasikan dan memilih antara bersikap kufur atau syukur? Atau jangan-jangan pernah pada keduanya? Dan sudah memahami mana yang harus dipilih? Apakah harus kufur atau syukur?

Kerajaan Arab Saudi Larang Jemaah Bawa Barang Bawaan Tertentu ke Tanah Suci, Ini Daftarnya

 

Dari pengertian yang telah dijabarkan diatas sebelumnya, dapat kita simpulkan dan telaah mana yang bernilai positif maupun negatif, mana yang baik dan buruk.

Salat Tarawih Tapi Belum Salat Isya, Begini Hukumnya

 

Ya, sebagai makhluk Allah hendaklah kita menjauhi daripada yang mungkar, dan memilih daripada yang ma'ruf/baik (Amar ma'ruf nahi mungkar). Sebagaimana terkait pembahasan kali ini, meninggalkan kufur dan menjadikannya menjadi syukur.

 

Kufur adalah sifat yang enggan untuk menyadari bahkan mengingkari nikmat yang telah Allah berikan. Umumnya, mereka yang kurang bersyukur akan sulit mendapatkan kebahagiaan, karena mereka lebih mementingkan duniawi dari kebaikan yang membawa pada kebahagiaan akhirat. Orang yang kufur nikmat biasanya akan selalu merasa kurang akan apa yang dimilikinya dan bahkan merasa belum mendapatkannya. Sehingga ia akan menggebu-gebu untuk mencari hal-hal yang lebih tinggi karena terus merasa kurang dan kurang.  

 

Sejatinya, bersyukur akan membawa manusia pada rasa ketenangan dan kebahagiaan. Itulah kenapa sebabnya dalam ajaran Islam, kunci yang menjadikan rasa tenang tersebut adalah bersyukur. Syukur menjadikan hati merasa benar-benar memiliki apa yang dimiliki, dan merasa cukup serta tenang dan percaya bahwa Allah sebagai penguatnya. Sehingga mereka meyakini bahwa semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah rezeki yang dimilikinya. Serta apa yang mereka miliki saat ini hanyalah suatu hal yang sifatnya sementara. Karena sesungguhnha amal baiklah yang akan menjadi penuntun menuju kebahagiaan kelak di akhirat.

 

Dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7, sudah dijelaskan bahwa pentingnya untuk selalu bersyukur dan menjauh dari hal-hal kufur. Allah SWT berfirman:

 

وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

 

wa iz ta-azzana robbukum la-ing syakartum la-aziidannakum wa la-ing kafartum inna 'azaabii lasyadiid

 

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.""

(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

 

Adapun kebaikan dari mengamalkan syukur juga akan menjadikan hati, jiwa dan fikiran menjadi tenang, merasa cukup dan bahagia akan apa yang dimiliki. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa ada banyak sekali macam kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Seperti halnya kenikmatan yang diberikan sejak lahir hingga saat ini, kenikmatan sehat, kenikmatan keluarga yang baik, pertemanan yang baik, makanan yang kita makan sehari-hari, senyuman baik dari orang-orang sekitar, tempat tinggal yang nyaman, dan lain sebagainya. 

 

Bersyukur juga merupakan upaya dalam bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Barangsiapa yang bersyukur, maka Allah akan menambah kenikmatan hamba-Nya. Akan tetapi, ketika mengingkari kenikmatan yang Allah berikan, sungguh tidak terhitung jumlah kenikmatan yang telah Allah berikan.