Pemerintah Perkuat Sinergi dengan Kampus Optimalkan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan

Menkomdigi Meutya Hafid dalam acara diskusi di UGM Yogyakarta
Sumber :

Yogyakarta – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk membumikan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

img_title Desa Kuno di China Ini Mendadak Viral dan Kaya Raya Gara-Gara Ketumpahan Rezeki Drama Pendek

Hal tersebut diungkapkan Menkodigi dalam diskusi bertajuk Komdigi Menjangkau: Campus, We’re Coming!, yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu, 11 Desember 2024.

Meutya menyatakan bahwa pendekatan bertahap akan menjadi strategi pemerintah dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.

img_title Kuasai 95 Persen Konten Tapi Sepi Penonton, Drama AI China Mulai Dibatasi Platform Raksasa

“Biasanya, sesuatu untuk kemajuan perlu kita perbincangkan terlebih dahulu dengan para pihak. Setelah ada kesepahaman, barulah kita bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat harus memahami dan merasa nyaman terlebih dahulu dengan teknologi baru sebelum sepenuhnya mengadopsinya.

img_title Tanpa Aktor dan Set Shooting, Drama Pendek AI China Bikin Industri Film Tradisional Ketar-Ketir!

Pemerintah dikatakannya memandang AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebuah peluang besar sekaligus tantangan. Data menunjukkan bahwa AI akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada 2025, tetapi di saat yang sama akan menciptakan 90 juta pekerjaan baru di bidang seperti pengembangan AI, data sains, dan kolaborasi manusia dengan AI.

“Artinya, ada yang hilang, tetapi lebih banyak yang datang. Ini adalah peluang yang harus kita manfaatkan, terutama oleh generasi muda,” tambah Meutya.

Etika dan Tanggung Jawab dalam Pemanfaatan AI

Pada kesempatan tersebut, Meutya pun menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pengembangan AI. Maka Indonesia menjadi negara pertama yang mendorong AI etik, sejalan dengan panduan UNESCO.

“Etika dan kreativitas harus berjalan seiring. Teknologi memiliki batasan, dan etika adalah pengendali utama agar manfaatnya tetap optimal,” jelasnya.

Pemerintah telah mengeluarkan panduan etik dalam bentuk surat edaran. Mulai 2025, serial diskusi dengan para pemangku kepentingan akan digelar untuk meningkatkan regulasi agar lebih kuat dan inklusif.

“Kami tidak akan menghambat inovasi teknologi, tetapi mendorong penggunaannya untuk berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi,” tegas Meutya.

Maka itu Indonesia membutuhkan sembilan juta talenta digital hingga 2030 untuk menguasai teknologi digital, termasuk AI.

Tantangan ini diakui Meutya sebagai pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Namun, ia optimistis karena adanya dukungan akademisi, termasuk UGM. Pada 2024, Kementerian Komdigi pun telah mencetak satu juta talenta digital baru dan menjangkau 5,6 juta peserta literasi digital.

Halaman Selanjutnya
img_title