Cuma Berlatar Dapur di Daerah Konflik, Film China Ini Malah Laris Manis Hingga Tembus Ratusan Miliar
- Courtesy of Douban
Ceritakita – Film terbaru asal China berjudul Once Upon a Time in the Middle East menjadi perbincangan hangat publik internasional usai secara tajam mengkritik narasi perang ala Hollywood yang kerap menempatkan pasukan AS sebagai "pembebas" ketimbang invasi.
Melansir laporan dari Global Times, film garapan sutradara Wen Muye ini berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa di pasar domestik dengan meraup pendapatan 373 juta yuan (sekitar $55,35 juta) pada pekan perdananya, atau lebih dari empat kali lipat pendapatan film The Odyssey karya Christopher Nolan di pasar yang sama.
Dapur Sebagai Pusat Perlawanan dan Kemanusiaan
Berbeda dari film perang Hollywood yang dipenuhi aksi spektakuler, cerita ini berfokus pada Xu Fu, seorang juru masak biasa dari China yang merantau ke sebuah kota di Timur Tengah untuk melunasi utang keluarga. Bersama manajer restoran Ma Junsheng, ia membuka Dragon Restaurant dan tetap memasak makanan di tengah berkecamuknya pertempuran.
Dapur restoran tersebut menjadi pulau rapuh yang mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. Karakter utama tidak digambarkan sebagai pahlawan yang mengangkat senjata atau berpidato soal kebebasan, melainkan sosok yang terus memasak demi bertahan hidup dan memberi makan anak-anak yatim piatu di daerah konflik.
Menolak Narasi Barat dan Membongkar Dampak Perang
Film ini secara terbuka membalikkan sudut pandang perang ala Barat yang selama puluhan tahun menempatkan tentara AS sebagai pusat cerita. Melalui dialog menohok kepada seorang perwira Amerika—"Tanpa kalian, dari mana para teroris itu berasal?"—film ini menyoroti bahwa kekerasan hanya memicu kekerasan baru, serta deprivation kehidupan normal yang memaksa anak-anak terjerumus dalam ekstremisme.
Dengan memadukan filosofi kuliner China tentang bertahan hidup dan analogi sederhana seperti pisau dapur serta kentang, film ini menyampaikan pesan mendalam bahwa damage terbesar dari perang bertahan jauh setelah pertempuran usai. Kehadiran film ini membuktikan bahwa kisah kemanusiaan yang disampaikan dari balik dapur mampu menyentuh hati penonton global sekaligus mendobrak tradisi film perang arus utama.