Kuasai 95 Persen Konten Tapi Sepi Penonton, Drama AI China Mulai Dibatasi Platform Raksasa
- Global Times
Ceritakita – Platform drama pendek berbasis AI di China kini mulai memperketat aturan guna mengatasi masalah penyeragaman visual karakter yang dinilai makin mengganggu kenyamanan penonton.
Melansir laporan dari Global Times, bentuk mata yang sempurna, bibir serupa, hingga kilau pipi yang konstan membuat wajah para karakter buatan kecerdasan buatan dalam drama pendek terlihat terlalu mirip satu sama lain. Kondisi "satu wajah untuk semua" ini memicu protes penonton yang merasa bingung lantaran karakter utama di berbagai judul drama yang berbeda tampak diisi oleh sosok yang sama.
Sindrom Uncanny Valley dan Reaksi Penonton
Fenomena kemiripan wajah dan ekspresi yang monoton ini kian santer diperbincangkan di media sosial Sina Weibo. Banyak penonton mengeluhkan munculnya perasaan aneh dan tidak nyaman (uncanny valley) saat menyaksikan deretan drama AI yang menampilkan gestur serta raut muka yang identik.
Beberapa drama populer seperti Twilight in Later Years, Mother-in-Law's Awakening, hingga Shedding the Burden to Find Myself memperlihatkan karakter utama wanita paruh baya yang memiliki alis lurus, kelopak mata ganda besar, serta ekspresi tersenyum maupun menangis yang sangat serupa.
Platform Milik ByteDance Mulai Ambil Tindakan
Menanggapi keluhan tersebut, Hongguo Short Drama, platform mikrodrama yang dioperasikan oleh ByteDance, resmi merilis imbauan agar para kreator menghindari penggunaan wajah AI yang terlalu mirip antarproduksi. Platform ini juga mengumumkan kampanye khusus untuk menertibkan penggunaan wajah AI berfrekuensi tinggi, desain karakter yang homogen, serta materi tanpa izin.
Laporan harian People's Daily mencatat bahwa meski drama AI menyumbang lebih dari 95 persen dari total mikrodrama yang baru dirilis dalam enam bulan terakhir, jumlah penontonnya masih kalah jauh dibandingkan produksi yang menggunakan aktor manusia. Guna menjaga kualitas, grup Douyin juga telah meluncurkan alat pra-penyaringan untuk memeriksa potensi pelanggaran hak cipta dan homogenisasi konten sebelum karya fiksi AI diizinkan tayang ke publik.